Heartbreaker Series : Backstabber

source: saatchionline.com

“Ren, stop, Ren!”

Aku spontan merebut benang dan jarum dari tangan Renata yang terus menerus menjahit bagian bawah gaun rancangan kami hingga melewati garis polanya. Butuh beberapa saat baginya untuk tersadar dari lamunannya.

“Sorry, Cel, tadi aku kurang fokus. Aku...” Renata kelabakan sendiri melihat hasil jahitan brokatnya yang berantakkan. “Aku dedel lagi ya jahitannya. Ini masih bisa diperbaiki, kok.”

“Kamu memang nggak fokus sejak awal pembuatan gaun ini, Ren.”

Perempuan itu langsung menatapku tidak suka. Raut wajahnya langsung menunjukkan bahwa ia tersinggung dengan statementku yang barusan. Dan benar saja, ia segera beranjak meninggalkan pekerjaan kami setelah membanting peralatan jahitnnya. “Bakar saja gaunnya!”

Jika yang menunjukkan perilaku tidak profesional itu adalah karyawan yang lain, aku sudah pasti akan memberinya surat resign hari ini juga. Tapi untuk Renata, aku bisa memahaminya. Bukan karena Renata adalah designer andalanku, tapi mungkin akan melakukan hal yang sama jika masalah yang sedang dialami Renata terjadi padaku.

Aku melihat Renata berdiri mematung di ujung jendela ruang kerja kami dan aku menghampirinya. Matanya menatap nanar ke luar jendela. Kosong. Bahkan ia tak menyadari bahwa air mata kini telah membahasi pipinya.

“Kamu nggak bisa kayak gini terus, Ren. Dia memang bukan laki-laki yang tepat buat kamu.”

“Aku tau, Cel. Aku tau. Harusnya aku bersyukur karena semua ini terjadi sebelum kami menikah.” Tangis Renata pun akhirnya pecah. “Tapi ini terlalu sakit, Cel. Kamu nggak ngerasain, Cel. Ini sakit.”




Siapapun pasti akan langsung merasa lapar jika melihat sepotong daging salmon yang disajikan dengan cantik bersama sebotol Dom Perignon, ditambah dengan harum saus reduksi yang sangat menggoda, ingin rasanya segera menyantap hidangan berkelas yang hanya khusus dibuat untuk seorang Renata Wijaya.  Bagaimana tidak, Venlo Spijshuis hanyalah sebuah tempat nostalgia para opa dan oma yang rindu akan lezatnya ontbijtkoek, bistik sapi, dan sebagian kuliner kuno lainnya. Hanya karena restoran bernuansa oldies itu adalah milik kekasihnya, maka ia bisa memesan makanan apa saja yang ia mau, bahkan tanpa ia memesan pun, Danisha Rukmana, kepala koki restauran itu sudah pasti akan mempersiapkannya secara khusus.

“Bon appetite!” seru Ara, kekasihnya yang menjamunya makan malam ini sambil mengangkat segelas champagne mahal koleksinya itu. Dan Renata pun mengikutinya dengan begitu anggun.
Renata mencicipi sepotong kecil salmon di hadapannya. Dan ia menutup matanya. Fantastic! Ara memang memilih orang yang tepat. Pantas jika restoran warisan keluarganya ini mendapat rating penuh dari situs Zomato. They have Danisha Rukmana! Perempuan muda dengan talenta memasaknya yang luar biasa yang menjadi mantan kepala dapur di salah satu restoran hotel mewah dengan simbol singa bermahkota yang ada di Pulau Bali. Tentu bukan hal yang sulit baginya untuk menciptakan rasa yang sama ketika Renata menikmati hidangan serupa di Paris beberapa tahun silam.

“Is it nice?” tanya Ara di tengah-tengah kegiatan makan malam mereka itu.

Renata mengangguk. Tidak lupa dengan senyum persetujuannya yang mengiyakan pertanyaan kekasihnaya tersebut. Perempuan itu kemudian meneguk sedikit champagne-nya dan mengusap bibirnya sesaat. “Jadi apa yang mau kamu bicarakan, Ara?”

Ara terdiam sejenak. Lalu dengan sikap tenangnya, ia meminta Renata untuk melanjutkan kegiatan makan malamnya lagi. “Kita makan dulu, ya.”

Suspicious! Insting Renata mengatakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan lelaki itu. Ia mengenal Ara sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA. Dan menunda pembicaraan bukanlah sifat seorang Ara Maghani Putra.

Perempuan itu menghabiskan makanannya dalam diam. Begitupun kekasihnya. Setelah mereka sama-sama selesai menegak minuman masing-masing, Ara pun membuka pembicaraan.

“I think it will be the end of our relationship.”

Renata terdiam. Ia menatap kekasihnya itu, tak percaya. “I’m sorry, I don’t get it.”

“I want to break up.” Ara mengulangi pernyataannya lagi sambil menatap lurus-lurus kedua mata Renata.

Renata membalas tatapan Ara tanpa ekspresi. Untuk sesaat ia tak bisa bereaksi apa-apa sampai ia mendengar suara pintu dapur terbuka dan ia mendapati kepala koki restauran tersebut menatap mereka dengan tatapan kecewa.

Banyak sekali jawaban yang dapat Renata simpulkan sendiri atas semua pertanyaan di balik alasan Ara meminta putus darinya. Dan sebagian besar hasil pemikirannya mengarah pada perempuan bernama Danisha itu.

“I’m so sorry,” ucap Ara dengan penuh penyesalan.

Renata hanya bisa menghela nafas. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya ini. “You guys cheating on me?”

Ara menganggukkan kepalanya kecil. Ia tak berani menatap Renata yang sudah kehabisan kata-kata. Semua kecurigaannya selama ini akhirnya terungkap, bahkan dari mulut Ara sendiri. Beberapa bulan terakhir Renata mendapati Ara bersikap seolah menghindari pembicaraan tentang Danisha ketika ia pulang dari menilik restauran miliknya. Namun Renata tak pernah langsung menuduh Ara menyembunyikan sesuatu darinya. Dan ia pendam sendiri semua kekhawatiran itu. Hingga malam ini...

Renata  menutup mulut dengan telapak tangannya. Ia memejamkan mata. Sekuat tenaga ia menahan air matanya, namun gagal.

Ara hanya bisa menatap Renata. Ingin sekali rasanya lelaki itu mengusap air mata sang kekasih namun ia merasa sudah tidak pantas lagi dirinya menyentuh perempuan yang terluka akibat perilakunya itu.

Untuk beberapa saat, waktu seolah berhenti. Danisha, tokoh yang juga ikut berperan dalam melukai hati Renata Wijaya, hanya bisa berdiri mematung melihat akibat yang dihasilkan dari ulahnya. Ia tidak pernah berpikir bahwa melakukan one night stand dengan seorang Ara Maghani Putra dapat menghancurkan hidup seseorang. Ia tidak menduga bahwa lelaki yang pernah tidur dengannya itu akan membuka dosa yang pernah mereka lakukan di hadapan perempuan yang tidak tau apa-apa itu.
Ini sama ironisnya seperti menyaksikan lelaki itu membunuh kekasihnya sendiri dengan pedang yang ia berikan. Ya. Danisha adalah iblis kejam yang memberikan pedang itu pada kawannya dari neraka untuk membunuh seorang manusia tak berdosa bernama Renata Wijaya.

Dan dosanya tak akan pernah terampuni.

“Ara,” dengan suara parau Renata menyebut nama lelaki itu. “Apa kamu pernah berpikir mengenai perasaanku sebelum melakukan semua ini?”

Lelaki itu hanya bisa menunduk lagi, kehilangan harga diri. Yang bisa ia ucapkan hanya kata “maaf” yang tak mungkin terdengar oleh Renata. Perempuan itu kemudian beranjak berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Ara yang terlalu pecundang untuk menahan dirinya agar tidak pergi. Ketika Renata melewati Danisha yang masih tetap berdiri di tempat yang sama, perempuan itu berhenti dengan air mata yang masih terus mengalir membasahi paras cantiknya.

Danisha sudah siap bahkan jika perempuan itu menampar pipinya. Namun jalan kekerasan bukanlah cara yang diajarkan oleh kedua orang tua Renata ketika mengajarkan tata krama pada perempuan itu.

“You’re such a talented cook, Danisha. But I never know that you also a talented betrayal,” ucap Renata di tengah tangis penuh kecewanya. “Terima kasih sudah menunjukkan Ara yang sebenarnya. He’s all yours.”







“Enam tahun berlalu begitu aja, Cel. Rencana kita. Semuanya. Dia lupakan begitu saja setelah ada Danisha,” Renata menangis begitu memilukan. Sama pilunya ketika Renata datang ke rumahku sehari setelah kejadian putusnya hubungan mereka malam itu. Renata bahkan menanyakan hal yang sama padaku hari ini. “Apa salahku, Cel, sampai Ara setega itu?”

Apa salahnya seorang Renata Wijaya yang mencintai lelaki bodoh yang bahkan tidak tau apa yang ia inginkan di saat ia sudah memiliki apa yang ia butuhkan?

Sebagai seorang sahabat, aku hanya bisa memeberikan pelukan untuk membantu menguatkannya. “Maybe he just not the right man for such a good person like you, Renata.”


"There will be a time people will forget. Or being forgotten. People leave, eventually."
-xoxo, c.- 


 

Comments

Popular Posts